Senin, 12 Oktober 2015

Kopi

Ngunandiko.91



Kopi

No one knows exactly how coffee was discovered. The first coffee plants probably grew in Kaffa, a province of southwestern Ethiopia. Provinsi may have given coffee its name (The New Book of Knowledge).

Sebelum abad ke-6 tentara Persia telah mengetahui effek dari biji kopi, dan mungkin merekalah yang telah membawa kopi tersebut dari Ethiopia ke Yaman di jasirah Arab. Di Yaman itu orang-orang Arab mencoba memasak biji kopi yang pahit itu menjadi minuman, yang dapat membuat orang merasa nyaman dan segar. Sementara itu pada awal abad ke-17 begitu banyak kopi yang dikapalkan melalui pelabuhan Mocha di Arabia, oleh karena itu kopi sering disebut pula dengan Mocha.
Pada waktu ini kopi telah dikenal diseluruh dunia, dan merupakan barang dagangan (comodity) yang berharga. Menurut ICO (International Coffee Organization), pada awal abad ke-21, tercatat ada 5 negara pemasok kopi terbesar di dunia. Posisi  lima negara tersebut pada tahun 2012 adalah seperti  pada daftar berikut ini.

Produksi negara pemasok kopi dunia tahun 2012
No.
Negara
Produksi (kantong)
Ekspor
01
Brasilia
50,826,000
47,000,000
02
Vietnam
22,000,000
1,600,000
03
Indonesia
10,950,000
880,000
04
Kolombia
8.000.000
480.000
05
Ethiopia
6,500,000
325.000
06
Total 5 negara


Catatan: 1 kantong (bag) = 60 kg

Dari angka-angka tersebut terlihat; jika dilihat nilai ekspor lima negara tersebut diatas, maka jumlah biji kopi yang masuk ke pasar dunia diperkirakan sebesar 50 - 70 juta kantong (300.000 - 350.000 MT), atau senilai lk 20 - 25 milar USD setiap tahun, suatu nilai yang cukup besar.
Besarnya nilai tersebut karena besarnya kebutuhan kopi, sehingga sejumlah perusahaan besar di dunia juga telah ikut serta dalam perdagangan dan industri (pengolahan, penjualan dll) produk-produk kopi al tampak seperti dalam daftar berikut ini.


PERUSAHAAN BESAR PERDAGANGAN & INDUSTRI KOPI
No
Perusahaan
Negara
Didirikan
Deskripsi
01
Nestle
Swiss
1866
Makanan & minuman
02
Dunkin Donuts
Amerika Serikat
1950
Restoran & waralaba
03
Cocta Coffee
Inggris
1971
Rantai toko kopi
04
Starbucks
Amerika Serikiat
1971
Rantai toko kopi
05
Aiterra Coffee Roasters
Amerika Serikat
1993
Coffe roaster
06
Aroma Espressobar
Israel
1994
Rantai toko kopi
07
Café Coffee Bag
India
1996
Kopi & alat-alat nya.
08
Highland Coffee
Vietnam
1998
Produsen & distributor kopi
09
Caffe Bom Dia
Brasilia

Produsen kopi terpadu


Angka-angka negara pemasok kopi dunia diatas menunjukkan, bahwa Indonesia termasuk pemasok kopi ke pasar dunia terbesar ke-3. Indonesia setiap tahun melakukan ekspor kopi sebesar 800.000 - 1,200,00 ton atau senilai sekitar USD 200.000.000 - 300.000.000. Jumlah ekspor kopi Indonesia adalah sekitar 60% dari jumlah produksi-nya. Oleh karena itu kondisi tanaman kopi Indonesia sangat tergantung pada harga kopi di pasar dunia.
Seperti diketahui kopi di Indonesia sebagian besar dihasilkan oleh petani yang memiliki kebun seluas 0,5 - 1,0 ha. Produksi kopi Indonesia rata-rata kurang dari 1,00 kg per sqm per tahun, suatu angka produksi yang kurang baik. Sementara itu konsumsi kopi per kapita (kopi sebagai minuman) di Indonesia lk 0,6 kg per kapita per tahun. Sedangkan konsumsi kopi per kapita di beberapa negara lain tampak seperti daftar berikut ini.

KONSUMSI KOPI PER KAPITA
N0.
Negara
Konsumsi (kg)
01
Belanda
6.7
02
Jerman
5.2
03
Brasilia
4.8
04
Ethiopia
0.8
05
Indonesia
0.6

 

Kopi telah diperdagangkan di toko-toko dan warung-warung di hampir seluruh pelosok dunia. Beberapa jenis diantaranya adalah kopi arabika, kopi robusta, kopi moka dan kopi instant.


Sebagaimana diketahui sebelum diperdagangkan kopi yang dipetik dari pohonnya di proses terlebih dahulu menjadi butiran kopi kering yang sering disebut pula sebagai beras kopi.Beras kopi tersebut diolah lebih lanjut menjadi menjadi bubuk kopi dan ekstrak kopi, kemudian diolah lagi menjadi makanan dan minuman. Seperti diketahui kopi mengandung kafein, yang dapat memberi rasa nikmat dan segar terutama pada minuman. Kandungan kafein dalam beberapa jenis minuman terlihat seperti pada daftar berikut ini.

KANDUNGAN KAFEIN PADA BEBERAPA MINUMAN
No.
Minuman
Kandungan kafein

01
Secangkir kopi
85 mg

02
Secangkir teh
35 mg

03
Minuman berkarbonasi
35 mg

04
Minuman berenergi
50 mg


Toko Kopi

Kopi diperdagangkan di toko-toko atau warung-warung yang ada di hampir seluruh pelosok dunia. Beberapa jenis diantaranya adalah kopi arabika, kopi robusta, kopi moka dan kopi instant. Kandungan kafein pada jenis kopi-kopi tersebut lk sbb:

KANDUNGAN KAFEIN PADA BEBERAPA JENIS KOPI
No.
Jenis kopi
Harga kafein (%)

01
Robusta
1.48

02
Arabika
1.10

03
Moka
1.00

04
Instant
2.80 - 5.00


Disamping beberapa jenis kopi tersebut diatas dikenal pula "kopi luwak" Kopi Luwak adalah seduhan kopi menggunakan kopi yang diambil dari sisa kotoran "luwak" (sejenis binatang pengerat). Kopi Luwak ini dipercaya merupakan kopi yang paling enak. Biji "kopi luwak" adalah yang termahal di dunia, mencapai USD 100 per 450 gram.
Perkembangan kopi sebagai minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat luas di hampir seluruh pelosok dunia tergambar dengan dibukanya toko-toko kopi dan berbagai kegiatan pengembangan lainnya disejumlah negara, yang antara lain adalah sbb:
  • Pada Tahun 1475 di Istambul (Konstantinopel) - Turki Ottoman telah dibuka toko yang menyajikan minuman kopi untuk pertama kali di dunia. Beberapa tahun setelah itu raja Sulaiman (Kaisar Turki-Ottoman) melarangnya, karena toko tersebut dianggapnya telah menjadi kerumunan orang   berbicara politik yang merugikan kekaisaran Ottoman.
  • Pada Tahun 1645 toko kopi pertama dibuka di Italia;
  • Pada Tahun 1652 toko kopi pertama dibuka di Inggris, dan segera menjamur di seluruh pelosok negeri. Pada tahun 1675, raja Inggris  Charles II menerbitkan larangan "Kedai Kopi". Alasannya, toko kopi telah membuat orang mengabaikan tanggung jawab dan mengganggu stabilitas pemerintah. Namun protes bermunculan di seantero London. Dan puncaknya dua hari sebelum aturan ini berlaku raja Charles II mengundurkan diri.
  • Pada Tahun 1672 toko kopi pertama dibuka di Paris, Perancis;
  • Pada Tahun 1721 toko kopi pertama dibuka di Berlin (Jerman). Seperti halnya Raja Sulaiman dari kekaisaran Turki-Ottoman, maka pada tahun 1777 penguasa Jerman - Frederick the Great - mengeluarkan manifesto melarang rakyatnya minum kopi.

Disamping dibukanya toko-toko kopi di berbagai negara seperti tersebut  diatas, kopi juga telah berkembang dengan pesat dalam berbagai aspek lainnya al adalah sbb:
  • pengembangan budi-daya tanaman kopi al seperti yang dilakukan oleh Belanda di Sri Langka dan Indonesia cq Jawa (1690);
  • reproduksi biji kopi (yang di curi dari bangsawan Belanda) yang dilakukan oleh Gabriel_de_Clieu (Gabriel Matheiu do Clieu) di pulau Martinik wilayah Perancis di laut Karibia bagian timur (1714), biji-biji kopi dari wilayah itu sekarang merupakan sumber dari 90% jenis tanaman kopi di dunia ;
  • perbaikan cara-cara tanam, panen, dan pengolahan-nya, sehingga   kopi  dan ikutannya menjadi produk industri; seperti yang dipelopori oleh Letnan Kolonel Francisco_de_Melo_Palheta di Brasilia (1727); dan lain-lain.

Penelitian dan pengembangan kopi dalam berbagai aspek seperti budi daya tanaman, cara-cara pengolahan produk kopi dll sampai saat ini juga masih terus dilakukan   di berbagai Negara.

Tanaman kopi menghasilkan buah dalam kelompok-kelompok tandan (berry), buah kopi tidak matang secara merata. Hanya buah kopi matang yang menghasilkan minuman berkualitas tinggi,

Tentang kopi dan tanaman kopi itu sendiri, disini dapat dikemukakan dengan lebih rinci beberapa hal yang kiranya penting untuk diketahui sbb:


Memetik buah kopi

1.    Kopi dihasilkan oleh pohon-pohon kecil yang berasal dari benua Afrika tropis. Hampir semua kopi berasal dari satu jenis pohon kopi yaitu tanaman kopi Arab. Tanaman kopi waktu tanaman dan bunga utamanya di dipengaruhi oleh iklim. Di daerah yang memiliki dua musim (hujan dan kering / kemarau), kopi mulai berbunga pada akhir musim kering. Kopi berbunga beberapa kali yaitu di minggu ke 3 dan 4 (selama perubahan musim) . Tanaman kopi berbunga putih, berkumpul pada tangkai yang pendek di antara daun. Setiap kali bunga mekar, maka bau parfum yang halus mengisi pedesaan disekitarnya. Tidak semua bunga berkembang menjadi buah (kopi). Tentang kondisi tanaman kopi itu sendiri al dapat dikemukakan pula hal-hal sbb:        

  • Tanaman kopi berbunga selama lk 5 - 7 bulan, kemudian bunga berubah menjadi buah yang matang. Tandan buah (berriy) berada di rumpun antara daun. Karena berwarna merah terang ketika matang, maka biasa disebut ceri (Inggris) dan cerezas (Spanyol).
  • Berry panjangnya ½ s / d ¾ inci (1,5 s / d 2 cm). Setiap berry mengandung dua biji. Daging buah (lapisan bubur manis) terletak di antara biji dan kulit luar, ada lapisan tipis (parchmentlike) dan kulit bagian dalam yang melindungi biji. Setelah melalui sejumlah proses berriy siap menjadi "coffe bean" yang diperdagangkan.
  • Kopi tumbuh terbaik di dataran tinggi tropis. Suhu yang lebih rendah dan pematangan (ripening) yang berlangsung secara lambat menghasilkan kopi ringan berwarna cokelat (mild coffee). Tanaman tumbuh dengan baik ditanah vulkanik yang kering.
  • Kopi adalah tanaman yang membutuhkan naungan (pelindung). Sejenis pohon tertentu (al lamtoro) dibudidayakan untuk menjadi tanaman naungan (pelindung). Kopi membutuhkan tanah yang baik dan udara lembab, dan kurang teduh. Pada ketinggian tinggi kopi dapat ditanam di bawah sinar matahari langsung. Pada beberapa ketinggian tertentu, seperti di Brazil dan Hawaii, pelindung tidak selalu diperlukan, karena factor kelembaban udara.
  • Kebanyakan tanaman kopi berasal dari biji yang ditanam di suatu tempat pembibitan khusus. Tempat tersebut biasanya terletak di tanah terbaik yang tersedia dan dekat sumber air. Untuk melindungi bibit dari panas matahari dipakai pelindung anyaman bambu atau daun kelapa. Dalam waktu 6 s / d 8 bulan, bibit tanaman itu siap untuk ditanam ke lokasi yang permanen.
  • Tanaman kopi berbuah untuk pertama kalinya pada usia 2 sampai 4 tahun, selama 6 sampai 7 tahun belum dapat berproduksi penuh. Masa produktif tanaman kopi bervariasi dari 15 sampai 30 tahun, tergantung pada varietas, iklim, tanah dan perawatan. Hasil yang dianggap baik adalah sebesar lk 1000 pound per acre (1 acre = 4047 sqm) per tahun.
  • Tanaman kopi memiliki beberapa musuh al berupa penyakit serius (karat daun, bercak daun, jamur upas, akar coklat hitam putih) dan serangga. Kopi di Afrika dan Indonesia telah pernah diserang berat oleh penyakit karat kopi, tapi penyakit ini tidak menyebar ke benua Amerika (Dunia Baru). Serangga yang sering kali menyebabkan kerusakan di perkebunan kopi adalah penyakit pada daun, semut, serangga hijau, dan berbagai kumbang. semprotan bahan kimia ternyata tidak efektif untuk melawan musuh-musuh tanaman kopi tersebut

2. Tanaman kopi menghasilkan buah dalam kelompok-kelompok tandan (berry), maka buah kopi tidak matang secara merata. Berry dari berbagai usia berada pada pohon yang sama pada waktu yang sama. Hanya buah kopi matang yang menghasilkan minuman berkualitas tinggi, maka para petani biasanya harus memilih buah yang telah matang. Ada beberapa hal yang perlu kiranya perlu pula diketahui tentang kopi dan tanaman kopi al sbb:


  • Di negara-negara tanaman kopi hanya mekar beberapa kali,  maka seluruh tanaman - baik masih hijau maupun telah matang - dipanen segera setelah buah menunjukkan perubahan warna. Biji kopi  itu lebih rendah kualitas-nya, akan sedikit lebih baik dengan membuang biji kopi yang jelek atau dengan membiarkan burung dan binatang memakannya.
  • Di berbagai Negara sebagian besar panen kopi masih dilakukan dengan tangan (manual), tetapi pada waktu ini banyak pula yang telah dilakukan oleh mesin (efesiensi).
  • Di daerah yang beriklim kering dan juga di Brasil, "metode kering" digunakan untuk mempersiapkan buah kopi sebelum dijual di pasar. Pertama - tama buah dikeringkan, kemudian kulit dan daging dipisahkan, dan biji kopi abu-abu hijau muncul. Banyak perkebunan kecil hanya melakukan proses pengeringan saja, kemudian mengirimkannya ke pusat-pusat pengolahan, di mana pengolahan dilakulan dengan mesin.
  • Disamping "metode kering" sering pula digunakan cara lain yang disebut "metode basah", cara ini diduga memberikan kopi rasa yang lebih baik. Berry dimasukkan ke dalam mesin, guna menghilangkan kulit luar dan sebanyak mungkin daging buah (pulp). Kemudian di- fermentasi-kan di suatu tangki, sampai daging buah yang tersisa melonggar dan larut. Bijih yang telah bersih dikeringkan selama beberapa hari di bawah sinar matahari atau di keringkan dengan mesin pemanas.
  • Kopi dikirim ke pasar dalam karung yang terbuat dari rami, sisal, atau serat lainnya. Satu karung biji kopi beratnya 60 kilogram atau sekitar  132 lb. kopi yang disimpan dengan benar dapat tahan selama beberapa tahun tanpa kehilangan kualitas. Bahkan, penuaan kadang-kadang sengaja dilakukan untuk meningkatkan kualitas varietas yang keras rasa.
  • Kopi hijau kurang memiliki rasa (aroma), dengan memanggangnya keluarlah aroma kopi tersebut. Berbagai kopi dari setiap daerah menghasilkan sedikit perbedaan rasa. Satu-satunya cara untuk mengetahui perbedaan rasa tersebut adalah dengan memilih dan memanggangnya dalam wadah percobaan (batch test) dari masing- masing varietas. Penguji kopi terampil mencicipi-nya dan menilai kualitas-nya. Berdasarkan penilaian para penguji tersebut setiap varietas biji kopi (jumlah, waktu memanggang dll) dipanggang lebih lanjut.

3. Pembuatan kopi dimulai dengan memisahkan cangkang luar yang retak, dan kemudian biji kopi yang telah dipisahkan dihaluskan (ditumbuk). Hasilnya memilki nilai yang berbeda-beda, ditentukan oleh kehalusan-nya. Di banyak negara Eropa akar tanaman chicory sering ditambahkan pada kopi, karena biji kopi terlalu mahal untuk digunakan sendiri. Chicory membuat warna kopi lebih gelap dan rasanya lebih pahit. Disamping itu ada beberapa hal yang sering dilakukan pada pembuatan kopi antara lain sbb:

  • Kopi instant sering dibuat bagi orang-orang yang selalu sibuk. Kopi instan sebenarnya kopi yang dibuat dua kali. Pertama diseduh dan kemudian dikeringkan menjadi bubuk dalam ruang hampa. Bubuk berubah menjadi kopi lagi ketika air panas dicampurkannya.
  •  Produsen juga telah mengembangkan jenis khusus (kopi tanpa kafein). Kafein adalah stimulan yang membuat orang sulit tidur atau membuat mereka gugup. Kafein dihilangkan dengan merendam biji yang telah digongseng dalam pelarut kimia.
  • Salah satu langkah yang paling penting dalam pengolahan kopi adalah berhati-hati dan melakukan pembenahan cepat dan tepat. Setelah kopi dipanggang dan dikemas (bebas dari udara) dalam kaleng, kaleng tersebut disegel untuk menjaga kopi tetap segar saat digunakan kembali.
4. Kopi adalah minuman yang populer di hampir setiap negara termasuk Indonesia. Amerika Serikat adalah konsumen kopi (dalam bentuk makanan dan minuman) terbesar di dunia, meskipun benua Amerika Serikat tidak memiliki wilayah dengan iklim tropis yang cocok untuk menanam kopi.

Demikianlah uraian dan renungan secara singkat tentang kopi, dan semoga bermanfaat!
*

I would rather suffer with coffee than be senseless.
(Napoleon Bonaparte)

*

Sabtu, 01 Agustus 2015

Proklamasi 17 Agustus 1945

Ngunandiko.90




Proklamasi 17 Agustus 1945


Proklamasi 17 Agustus '45
Seperti diketahui "Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia" - sering pula disebut sebagai "Proklamasi 17 Agustus 1945", berlangsung pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 (17 Agustus 2605 -  tahun Jepang, atau 8 Ramadhan 1364- tahun Hijriah), dibacakan oleh ir Soekarno dengan didampingi oleh Drs Mohammad Hatta, bertempat di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Dalam kesempatan memperingati "Proklamasi  17 Agustus 1945" yang ke-70 tahun 2015 ini, Ngunandiko ingin menyajikan sepenggal kutipan dari buku "Adam Malik Mengabdi Republik" yang menceritakan hal-hal terkait dengan suasana disekitar peristiwa "Proklamasi 17 Agustus 1945" atau "Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia "tersebut sbb:


. . . . . . ..Jenderal Mac Arthur tentulah akan berkenalan dan berhadapan dengan kenyataan bahwa tanpa kecuali hampir semua politisi Indonesia adalah "Collaborator" tentara Jepang. Bukan hanya Soekarno-Hatta yang akan harus dia habisi.

Perlu kiranya diingat bahwa dalam medan pertempuran kawasan Asia Tenggara (pada akhir PD II) antara Tentara Sekutu dan Tentara Jepang, ada dua formasi pasukan Sekutu yang masing-masing bergerak di ujung barat dan ujung timur wilayah tersebut. Menurut posisi geografisnya, yang bergerak dibagian barat dinamakan South East Asia Command (SEAC) dibawah pimpinan Jenderal Lord Mountbatten dari Inggris dan yang dibagian timur bernama South West Pacific Area Command (SWPAC)  di bawah pimpinan Jenderal Mac Arthur .
Pada awalnya telah disepakati oleh Gabungan Pimpinan Staf Tertinggi Sekutu bahwa sesudah Jepang berhasil ditaklukkan - maka daerah jajahan Belanda, terkecuali Sumatra, akan di tempatkan di bawah kekuasaan South West Pacific Area Command, di dalam mana tergabung pula tentara Australia. Dalam gerakan menuju kejurusan Barat tentara Australia itu berhasil menduduki Irian Barat (sekarang Papua), Morotai, Tarakan, dan Balikpapan, sedangkan gerakan tim South East Asia Command  (SEAC) di daerah Burma tersendat-sendat.
Tapi kemudian, dalam bulan Juli 1945 persetujuan Postdam menjalani perubahan-perubahan vital yang ditentukan oleh Gabungan Kepala Staf Inggris-Amerika. Mereka menetapkan bahwa South East Asia Command di bawah pimpinan Jenderal Lord Mountbatten-lah yang diberi tugas untuk mengembalikan keamanan di daerah Muangthai, bagian selatan Indo-Cina dan Hindia Belanda. Perubahan mendadak inilah yang menyebabkan Jenderal Mac Arthur tidak dapat melaksanakan maksudnya untuk menyikat habis apa yang disebutnya "penjahat perang Indonesia".
Akan tetapi andaikata perubahan itu tidak terjadi, maka Jenderal Mac Arthur tentulah akan berkenalan dan berhadapan dengan kenyataan bahwa tanpa kecuali hampir semua politisi Indonesia adalah "Collaborator" tentara Jepang. Bukan hanya Soekarno-Hatta yang akan harus dia habisi. Semua politisi Indonesia! Dan dapatlah pembaca membayangkan betapa besarnya jumlah kaum politisi Indonesia di akhir zaman Jepang, kalau diingat bahwa kesadaran politik rakyat Indonesia mengalami guncangan yang sangat hebat di sekitar masa kapitulasi Belanda kepada Jepang dan selama masa pendudukan Jepang itu sendiri, sehingga dengan sendirinya jumlah kaum politisi Indonesia melonjak tinggi secara terkejut pula. Apakah gerangan semua itu akan dihabisi oleh Mac Arthur?
Satu-satunya tokoh politik Indonesia yang tidak pernah bekerja sama dengan tentara Jepang adalah almarhum Amir Syarifudin. Semenjak awal pendudukan tentara Jepang di Indonesia dia sudah dijebloskan ke dalam penjara Kamp Pe Tai karena kegiatannya sebagai Pemimpin Anti-Fascist League yang didirikan sebelum Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Tentara Jepang. Ke dalam katagori ini, dapat juga saya golongkan almarhum Tan Malaka yang selalu dicari-cari oleh tentara Jepang, tapi tak pernah dapat tertangkap karena Tan Malaka dapat bersembunyi di tengah-tengah rakyat Banten, menyamar sebagai romusha.
Kaum politisi Indonesia yang lain-lainnya, baik pemimpin maupun anggota biasa dari organisasi politik, tanpa kecuali harus menerimanya bekerja-sama dengan tentara Jepang, Bung Karno, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Mohammad Natsir, Dipa Nusantara Aidit, perwakilan berbagai golongan, termasuk golongan Cina, Arab, Agama, Cendekiawan, Karyawan, Wanita, Pers, Pemuda, semua harus bekerja-sama dengan Tentara Jepang yang berusaha membangun imperium Jepang, yaitu "Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya".
Mereka harus menjalankan perintah Jepang, kalau mereka tidak mau mati konyol dalam tahanan Kamp Pe Tai Jepang, di awal perjalanan memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negerinya. Saya katakan tanpa terkecuali, sebab almarhum Sutan Syahrir yang diriwayatkan memimpin suatu  gerakan bawah tanah  dan menurut riwayat itu dikenal sebagai tokoh yang tidak sudi bekerja-sama dengan tentara Jepang, sebenarnya juga dipaksa untuk menjadi "Collaborator" Jepang. Karena itulah ia memberikan serangkaian kuliah di salah satu asrama dinas rahasia Jepang di Jakarta, yaitu bagian dari Dai San Ka, Kem Pe Tai di Jalan Defensie lijn van den Bosch (sekarang  Jln Juanda), Jakarta.  

           Tak mungkin gerakan di bawah tanah di Indonesia pada waktu itu dapat berkembang seperti halnya gerakan Partisan Yugoslavia di bawah pimpinan Bros Tito, atau gerakan Partisan Vietcong yang dikendalikan dari jauh oleh Ho Chin Minh beberapa tahun yang lalu.

Akan tetapi andai- kata perubahan itu tidak terjadi, maka Jenderal Mac Arthur tentulah akan berkenalan dan berhadapan dengan kenyataan bahwa tanpa kecuali hampir semua politisi Indonesia adalah "Collaborator" tentara Jepang. Bukan hanya Soekarno-Hatta yang akan harus dia habisi. Sifat gerakan ini tak lebih dari menjalankan luisterpost gelap, mengumpulkan berita tentang perkembangan perang di daerah Pasifik Barat dan Asia Tenggara. Saya pun melakukan gerakan di bawah tanah dengan cara memonitor secara diam-diam berita-berita dari siaran radio luar-negeri dan melanjutkan berita- berita tersebut kepada pemimpin -pemimpin kita. Inilah yang dapat dikerjakan secara maksimal, lebih dari pada itu belum memiliki kemampuan.
Tak mungkin gerakan di bawah tanah di Indonesia pada waktu itu dapat berkembang seperti halnya gerakan Partisan Yugoslavia di bawah pimpinan Bros Tito, atau gerakan Partisan Vietcong yang dikendalikan dari jauh oleh Ho Chin Minh beberapa tahun yang lalu. Kondisi materi dan situasi medan tidak mengizinkan kita untuk mengacaukan secara efektip dengan gerakan di bawah tanah. Memang pernah terjadi pemberontakan di Blitar oleh beberapa anggota PETA tetapi secara keseluruhan orang-orang Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan tak pernah mendapat kesempatan memiliki senjata.
Sekedar untuk menyegarkan ingatan dan untuk memperoleh gambaran tentang perimbangan antara kekuatan gerakan patriotik dengan kekuatan tentara pendudukan Jepang waktu itu, baik juga barangkali saya singgung sekilas beberapa catatan sejarah tentang pemberontakan yang dengan cepat dapat di sapu bersih oleh tentara Jepang. Baru empat bulan sesudah Jepang berkuasa di tanah air kita ini, serentetan pemberontakan kaum tani tak bersenjata telah terjadi secara setempat-setempat. Tentu saja dan tak ayal lagi dapat didinginkan oleh Jepang dengan sekali tiup.
Diantara pemberontakan-pemberontakan yang sangat menggemparkan selama zaman Jepang adalah apa yang dikenal dengan nama "Pemberontakan Blitar", yang diluncurkan oleh Daidan PETA di Blitar, Jawa Timur. Pemberontakan ini timbul karena rasa dendam dan pilu hati yang tak tertahankan melihat bagaimana nistanya rakyat diperlakukan oleh Jepang, terutama rakyat romusha. Pada bulan Oktober 1944 beberapa perwira PETA di Blitar mencapai kata sepakat dan tekat bulat untuk mengangkat senjata terhadap Jepang. Pembagian tugas lalu diadakan, dan anak buah diberi penjelasan-penjelasan.
Mula-mula direncanakan untuk mengadakan pelatihan-pelatihan bersama dengan sepuluh Daidan lainnya dalam bulan Januari 1945. Akan tetapi rupanya pihak Jepang telah mencium bau kurang enak. Pada tanggal 13 Pebruari 1945 empat orang Syodanco yaitu Soeprijadi, Muradi, Suparyono, Budantiyo, Susanto berkonsultasi dan memutuskan untuk mulai mengadakan pemberontakan. Keesokan harinya pukul 3 malam senjata dan peluru dibagi-bagikan, barisan-barisan disiapkan, serangan dibuka dengan mortir berat diarahkan ke Hotel Sakura, dimana ada perwira-perwira Jepang. Pemberontakan ini telah membinasakan semua orang Jepang di Blitar.
Markas besar Jepang di Surabaya dan Jakarta terkejut. Bala bantuan untuk menindas pemberontakan itu secara kilat didatangkan dari Surabaya dan Malang. Pengoperasian penindasan pemberontakan dipimpin oleh Kolonel Katagari yang telah memiliki banyak pengalaman bertempur. Daidan Blitar diduduki, pengejaran dilakukan, penindasan dilaksanakan. Akhirnya pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Jepang sampai ke akar-akarnya-sudah barang tentu secara fisik.
Demikianlah sekedar untuk memperoleh gambaran sampai ke mana aksi di bawah tanah dapat dilakukan dengan berhasil di zaman pendudukan Jepang.
Lagi pula tentara Jepang - sebelum menyerbu ke daerah jajahan Belanda di Asia Tenggara - sudah diperlengkapi dengan segala macam dossier, lengkap dengan segala daftar nama tokoh-tokoh politik Indonesia beserta riwayat hidup mereka. Dosier-dosier semacam itu sudah semejak lama direncanakan dan disiapkan antara lain oleh mata-mata Jepang yang tak kecil jumlahnya, kebanyakan bertopeng sebagai pemilik toko Jepang, foto studio Jepang, toko alat-alat sport Jepang dan sebagainya, yang pada waktu itu sudah tersebar diberbagai kota Indonesia.
Perlu pula diketahui bahwa dalam usaha mengkonsolidasi posisinya di bidang sipil, tentara pendudukan Jepang telah pula mendaratkan karyawan-karyawan sipil Jepang yang terkenal dengan nama karyawan "Sakura". Kebanyakan di antara mereka ini mahir berbahasa Indonesia, bahkan juga menguasai bahasa Belanda. Ternyata sebagian besar dari mereka ini adalah mantan pemilik toko -toko Jepang yang sudah beroperasi di zaman Belanda sebagai barisan pelopor yang terselubung dalam rencana Jepang untuk melakukan penetrasi ke daerah selatan Asia Tenggara.
Dengan adanya jaringan mata-mata Jepang yang sudah berurat-berakar dan teratur rapi di Indonesia - saat Belanda masih berkuasa di negeri ini - maka pengetahuan tentara pendudukan Jepang mengenai situasi dalam negeri Indonesia sudah sangat luas dan mendetail sekali, di luar dugaan dan pengetahuan Belanda yang memliki administrasi kepemerintahan yang terkenal rapi juga. Jepang-Jepang itu mengetahui dengan tepat di mana letak gudang beras, di mana tempat pusat perlengkapan senjata Belanda, di mana dan siapa tokoh-tokoh politik Indonesia yang perlu digarap. Dengan pengetahuan yang sudah lama disiapkan, maka satu per satu, seorang demi seorang dari tokoh-tokoh politik Indonesia diciduk dan dipaksa kerjasama dengan Tentara Dai Nippon.
Dengan kenyataan bahwa tidak ada tokoh politisi yang tidak bekerja sama dengan tentara Jepang, maka saya kira sulit bagi Jenderal Mac Arthur - andaikata dia jadi mendarat di Indonesia - untuk melaksanakan rencananya menyeret semua "kolaborator" Indonesia ke pengadilan perang, kecuali kalau memang sebagian besar dari politisi Indonesia akan dihabisi. Tapi rencana itu dibatalkan oleh timbulnya perjanjian Postdam yang menentukan bahwa tim Inggrislah yang yang harus bertugas menormalisasi situasi di Asia Tenggara.


. . . . . . . . . . ada pula kesibukan Belanda di Bribane, Australia. Dua tokoh kawakan Belanda di zaman Hidia Belanda yaitu van Mook dan Van der Plas, yang menduduki tempat pertama dan kedua di dalam hirarki pemerintahan kolonial Belanda yang mengungsi ke Brisbane,

Perlu diketahui bahwa tugas-tugas South East Asia Command yang harus diselesaikan di Asia Tenggara itu antara lain adalah mengembalikan tentara Jepang - yang jumlahnya di Indonesia saja mencapai 283,000 orang - ke tempat asalnya, membebaskan tahanan perang Sekutu, memulihkan keamanan di Asia Tenggara sampai daerah itu dikembalikan kepada si pemilik masing-masing. Indonesia dikembalikan kepada Belanda, Indo-China ke Perancis, tanah semenanjung Melayu, Singapura, dan daerah-daerah di bagian utara Kalimantan ke Inggris, sedangkan Timor Dilly kepada Portugis. Itulah rencana tugas South East Asia Command yang ditentukan dalam persetujuan Postdam pada bulan Juli 1945.
Sementara itu pada tanggal 24 Juli 1945 pemerintah Belanda di Nederlqnd telah berhasil menyusun apa yang disebut NICA (Netherlands East Indies Civil Affairs). Badan Urusan Sipil Hindia Belanda, yang disiapkan untuk menerima kembali kekuasaan sipil di Indonesia dari tentara Inggris. Pembentukan NICA itu di diadakan di Brabant, sebuah propinsi di bagian selatan Nederland, di mana telah dapat dikumpulkan relawan sipil Belanda sejumlah 50.000 pria dan 12.000 wanita untuk segera diberangkatkan ke Indonesia.
Disamping itu di bidang ketentaraan, Pemerintah Belanda di Nederland juga sudah mendidik pemuda-pemuda Belanda menjadi tim khusus melalui pelatihan ketentaraan luar biasa di Inggris. Pelatihan ini menghasilkan dua macam pasukan Belanda yang dapat diandalkan dan yang diperlengkapi dengan segala macam senjata mutakhir pada waktu itu. Yang pertama disebut Gezachts Battalion dan yang kedua disebut Expeditionaire Machten. Merekapun sudah siap untuk diberangkatkan ke Indonesia sejak tanggal 24 Juli 1945.
Selain persiapan-persiapan yang ada di negeri Belanda itu, ada pula kesibukan Belanda di Bribane, Australia. Dua tokoh kawakan Belanda di zaman Hidia Belanda yaitu van Mook dan Van der Plas, yang menduduki tempat pertama dan kedua di dalam hirarki pemerintahan kolonial Belanda yang mengungsi ke Brisbane, juga sudah bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia.
Untuk sidang pembaca dari generasi baru ada baiknya disinggung sedikit siapa van Mook ini. Dia seorang Belanda Indo itu termasuk - kalau dilihat dari sudut pandang Belanda totok - seorang yang istimewa karena dapat mencapai posisi yang paling tinggi di Daerah Pemerintah Sebrang Samudera (Hindia Belanda) yakni sebagai Letnan Gubernur Jenderal, seorang pejabat Mahakuasa yang memiliki suatu hak yang tak dapat diganggu-gugat yaitu yang dinamakan exorbitante rechten.   
Dalam bulan Maret 1942 Van Mook melarikan diri ke Australia dalam jabatannya sebagai Letnan Gubernur Jenderal itu. Dalam bulan Mei berikutnya Letnan Gubernur Jenderal yang melarikan diri ini diangkat menjadi Menter Urusan Koloni. Pada tanggal 14 Desember 1944 ia diangkat kembali menjadi Letnan Gubernur Jenderal untuk Hindia Belanda meskipun ia sendiri berada di Australia. Tugasnya selama di Australia itu terutama untuk merencanakan dan mempersiapkan kembalinya pemerintah koloni Hindia Belanda. Sejak tahun 1948 dialah yang memimpin perundingan-perundingan dengan pihak Republik . Setelah kemudia ia merasa kebijaksanaannya dilangkahi oleh pemerintah Belanda di Den Haag, maka pada tanggal 25 Oktober 1948 minta berhenti
Itulah rencana fihak Sekutu yang tampak cukup rapi dan detail di atas kertas, tetapi kemudian ternyata terbentur dan gagal dalam pelaksanaannya. Alasan utama dari kegagalan rencana itu terletak pada kecerobohan pemikiran yang tidak memperhitungkan dan tidak mau tahu tentang adanya unsur baru yang timbul dalam area politik Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Bagi Inggris sendiri memang sudah diperkirakan bahwa daerah-daerah jajahannya di semenanjung tanah Melayu, Singapura, dan di Kalimantan bagian Utara akan dapat segera dikuasainya kembali. Di daerah-daerah tersebut tidak ada gerakan nasional yang cukup kuat untuk menggalang potensi menuju ke arah pembebasan dari kekuasaan Inggris. 
Tetapi pihak Belanda seharusnya sudah bisa mengira-ngira dan memperhitungkan bahwa kedatangan mereka kembali ke Indonesia pasti tidak akan diterima dengan tangan terbuka. Gerakan Nasional Indonesia yang sudah begitu keras di zaman sebelum pecah perang dunia kedua seharusnya sudah dapat mereka pakai sebagai ukuran bahwa rakyat Indonesia tidak mau lagi hidup di bawah suatu penjajahan, apakah penjajahan oleh Belanda, oleh Jepang ataupun siapa saja, selama namanya penjajahan. "Zaman berubah, musim beralih" kata pepatah. Segalanya di dunia yang fana ini bergerak melalui proses perubahan. Tak ada yang tinggal tetap sebagaimana adanya kemarin, lalu demikian pula besuk, lusa dan seterusnya. Batu sekalipun melalui proses perubahan. Ini adalah hukum Tuhan. Apa dan siapa yang tak mau mengikuti proses perubahan itu, pasti dimakan oleh hokum axioma Tuhan itu.     
Dan Belanda rupanya menghitung dan mengartikan, bahwa bangsa Indonesia yang dijajahnya selama 350 tahun dan kemudian diserahkan bulat-bulat ke tangan fascism Jepang dan ditinggalkannya, akan tetap berupa bangsa Indonesia seperti yang dulunya itu juga setelah perang dunia kedua, tanpa mengalami proses perubahan. Bangsa Indonesia yang dikenalnya dan dikatakannya sebagai "het zachste volk der Aarde" (bangsa yang paling lunak di dunia) dikiranya masih akan tetap bangsa Indonesia seperti itu juga yang akan didapatinya kembali sesudah perang dunia kedua. Dia kecele!


. . . . . . . . . . Habis ditenggelamkan tim Kamikaze-nya Jenderal Terauchi, sehingga sulit sekali bagi tim Inggris untuk bisa bergerak cepat maju. Dalam sejarah perang Jepang, pasukan Kamikaze (angin dewata) bukanlah hal yang baru. Pasukan Kamikaze pulalah yang menghancurkan armada Kubilai Khan dalam tahun 1281, yang hendak menyerbu Jepang.

Jenderal Terauchi
Dengan gambaran yang saya sajikan di atas, dapatlah dibayangkan situasi medan perang di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik pada akhir bulan Juli 1945. Benteng pertahanan tentara Dai Nippon berbasis di Saigon, di mana Jenderal Jepang yang kenamaan, Terauchi, masih menunjukkan semangat kemiliteran yang tinggi. Pertempuran terus dilanjutkan dengan mengerahkan seluruh angkatan udara Jepang untuk mengadakan penyerangan berani mati di mana setiap penerbang Jepang siap berjibaku, melabrakkan pesawat udaranya bersama dia sekalian ke sasaran musuh, terutama kapal-kapal perang musuh.
Siasat perang Jenderal Terauchi inilah yang melumpuhkan angkatan laut Inggris di bagian barat medan pertempuran Asia Tenggara. Hampir semua kapal sekutu di wilayah perang itu habis ditenggelamkan tim Kamikaze-nya Jenderal Terauchi, sehingga sulit sekali bagi tim Inggris untuk bias bergerak cepat maju. Dalam sejarah perang Jepang, tim Kamikaze (angin dewata) bukanlah hal yang baru. Pasukan Kamikaze pulalah yang menghancurkan armada Kubilai Khan dalam tahun 1281, yang hendak menyerbu Jepang.
Dengan pengrobanan yang luar biasa, akhirnya tim Jenderal Mountbatten dapat membebaskan Birma dari pendudukan tentara Jepang. Dengan prestasinya di Birma itu, ia mendapat imbalan dari Raja Inggris berupa tambahan titel: Lord Mountbatten of Birma. Akan tetapi sesudah operasi di Birma itu selesai, tim Inggris lama terkatung-katung dan tak dapat bergerak cepat ke jurusan tenggara karena tidak ada transportasi melalui laut , dan oleh karena itu daerah-daerah jajahan Inggris yang terletak di semenanjung Malaya, Singapura, dan di bagian utara Kalimantan masih tetap berada di bawah kekuasaan Jepang.   
Dalam pada itu Jenderal Mac Arthur yang memimpin pasukan Sekutu di bagian timur Asia Tenggara berhasil menduduki Philipina, Irian Barat, Morotai, Tarakan, dan Balikpapan. Pejuang-pejuang nasionalis Philipina diseret ke pengadilan tentara sekutu dan dinyatakan sebagai penjahat perang.
Di kawasan Indonesia kekuasaan tentara Jepang masih utuh, tetapi Jakarta pada saat itu secara politis sudah dikuasai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan di bawah pimpinan Bung Karno. Di daerah Indo-China ada pula pejuang-pejuang nasionalis di bawah pimpinan Ho Chi Min, yang sudah mempersiapkan diri untuk melawan dan menolak kembalinya kolonialisme Prancis di Vietnam.
Ribuan mil dari wilayah perang Asia Tenggara ini, pemerintah Belanda baik yang di Nederland maupun yang dalam pelarian di kota Brisbane, juga sudah siap memberangkatkan tim dan karyawan mereka, tetapi tertunda-tunda akibat tidak adanya transportasi melalui laut.
Demikianlah peta situasi dalam medan pertempuran di kawasan Asia Tenggara pada saat-saat Jepang akan dipaksa mengakhiri ambisinya membentuk imperium baru yang disebut Greater East Asia Co-Prosperity Sphere - Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.
Menurut pengamatan pihak Sekutu, kemampuan atau daya perang Jepang pada waktu itu yang digerakkan dan dikomandoi oleh Jendera Terauchi dari Saigon, masih akan bisa bertahan sampai akhir tahun 1945, dengan menjalankan siasat jibaku dan mandiri. Ini memang merupakan pilihan antara hidup atau mati, pilihan to be or not to be bagi Jenderal Terauchi, karena hubungan antara pasukannya di Asia Tenggara dengan induknya di Tokyo sudah dipotong semenjak Okinawa diduduki oleh Tim Jenderal Mac Arthur pada tanggal 1 April 1945.  
Sementara itu perjanjian Postdam yang menampilkan Lord Mountbatten of Burma di puncak kekuasaan Sekutu di Asia Tenggara cukup memberikan pertanda bagi pemeritah Belanda untuk merasa was-was, khawatir dan curiga terhadap kemungkinan pemerintah Inggris akan menguraikan politik yang bertentangan dengan politik Sekutu seperti yang digariskan dalam persetujuan Postdam . Tapi yang memiliki kecurigaan ini bukanlah Belanda saja. Jenderal Mac Arthur sendiri merasa tersinggung dan tertipu oleh ketentuan-ketentuan baru yang digariskan di dalam persetujuan Postdam.
Sebetulnya memang ada dasarnya mengapa pemerintah Belanda dan Jenderal Mac Arthur menaruh kecurigaan terhadap permainan Jenderal Lord Mountbatten of Burma. Perlu diingat bahwa dalam peperangan "Asia Timur Raya" yang diluncurkan oleh Jepang, gengsi Inggris sebagai satu imperium raksasa di kawasan Asia sudah sangat menurun dan dangat memalukan. Untuk memulihkan kerusakan dan menutupi rasa malu itu, timbul kemauan keras dari Jenderal Mountbatten mengembalikan wibawa dan kehormatan Inggris di Asia, antara lain dengan menguasai daerah Asia Tenggara bilamana Jepang sudah menyerah. 
Dari dokumen-dokumen tua yang ada di negeri Belanda dapat diketahui bahwa kekhawatiran pemerintah Belanda terhadap permainan Lord Mountbatten jelas sekali, tetapi Belanda tidak dapat berbuat apa-apa karena ia waktu itu memang sudah tidak memiliki peran sama sekali di medan pertempuran Asia Tenggara. Bahkan sisa -sisa tim Belanda pun tidak ada di Asia Tenggara yang akan dapat diikut-sertakan di dalam operasi Jenderal Mountbatten. Bisa dikatakan semua tentara Belanda secara bulat sudah meringkuk dalam tahanan Jepang.


. . . . . . .. Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mountbatten itu mendadak dikejutkan oleh pergolakan di Indonesia dengan peristiwa proklamasi kemerdekaannya beserta segala kegiatan politik dan kemiliteran yang bersangkutan dengan itu.Pernyataan kemerdekaan yang diucapkan oleh Proklamator Kemerdekaan Bung Karno dan didampingi ole Bung Hatta.

Akan tetapi di lain pihak Belandapun merasa sangsi apakah Jenderal Mac Arthur sebagai pemimpin pasukan Amerika di kawasan Pasifik Barat Daya akan bisa menjamin kepentingan Belanda di Indonesia andai kata Jenderal Amerika inilah yang diberi tugas dan wewenang untuk menguasai Asia Tenggara setelah menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Yang mereka takutkan adalah sikap pemerintah Amerika yang menurut penilaian Belanda pada waktu itu sangat keras memperlihatkan politik anti kolonialnya. Jadi pada saat-saat di sekitar akhir bulan Juli 1945 itulah Pemerintah Belanda merasa sangat terobang-ambing oleh perasaan tidak menentu, sampai akhirnya harus menerima kenyataan bahwa nasib mereka sebagai pemilik imperium di Asia Tenggara sangat tergantung dari sikap pribadi Lord Mountbatten.

Ledakan "Bom Atom"
Dalam saat-saat yang tidak menentu itu, dimana Jenderal Terauchi tidak memperlihatkan tanda-tanda akan segera menyerah, tiba-tiba medan pertempuran di Asia Tenggara dikejutkan oleh ledakan bom atom yang dijatuhkan berturut-turut di Hiroshima dan Nagasaki, masing-masing pada tanggal 6 dan 9 Agustus, atas perintah Presiden Amerika Serikat, Harry S, Truman. Malapetaka yang tak terduga dahsyatnya ini memaksa Jepang untuk segera bertekuk-lutut. Tim Jenderal Mac Arthur segera diangkut ke Tokyo untuk menduduki Jepang, sedangkan Asia Tenggara terbuka kosong bagi masuknya kekuasaan Jenderal Mountbatten. Bekas-bekas jajahan Inggris ditemukannya masih dalam keadaan utuh dan memperlihatkan sikap tetap patuh terhadap pemerintah Inggris, rakyat di daerah bekas jajahan itu tidak menunjukkan keinginan untuk merobah status mereka dari status sebelum perang.
Akan tetapi Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Mountbatten itu mendadak dikejutkan oleh pergolakan di Indonesia dengan peristiwa proklamasi kemerdekaannya beserta segala kegiatan politik dan kemiliteran yang bersangkutan dengan itu. Pernyataan kemerdekaan yang diucapkan oleh Proklamator Kemerdekaan Bung Karno dan didampingi oleh Bung Hatta menempatkan posisi tentara sekutu di dalam situasi rumit. Secara fisik tentara Sekutu tak dapat cepat bergerak ke Indonesia setelah Jepang menyerah. Maka timbullah suatu vakum di Indonesia di mana Jepang sebagai pihak yang kalah sudah tidak berwenang untuk bergerak, akan tetapi tentara Sekutu belum kunjung tiba. Maka kesempatan yang terlowong ini dimanfaatkanlah oleh pejuang-pejuang Indonesia untuk menyatakan diri sebagai bangsa dan Negara yang merdeka, bebas dari segala belenggu kolonialisme.
Bagi Indonesia kesempatan itu bukanlah suatu kesempatan yang kebetulan, bukanlah suatu a blessing in disguise, akan tetapi suatu kesempatan yang memang sudah sejak lama ditunggu-tunggu. Dan pemanfaatan kesempatan itu bukanlah pula dilakukan secara semberono, akan tetapi rapi, layanan, dan khusuk., Karena sudah sejak lama pula persiapan diolah dan dimatangkan untuk itu. Manifestasi ini semua tercermin dalam satu Deklarasi yang dicetuskan beberapa hari menjelang proklamasi kemerdekaan oleh para cerdik- cendekiawan yang dihormati dan dijunjung bangsa yakni Soekarno-Hatta-Maramis-Abikusno-Kahar Muzakir-Agus Salim -Subardjo-Wachid Hasyim-Yamin: Deklarasi Jakarta ini al berbunyi: 

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa, yang dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka Rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya ".

Deklarasi ini merupakan suatu disiplin, suatu komitmen ke dalam, suatu janji dan janji kepada diri sendiri, belum keluar. Barulah setelah deklarasi ini mengalami proses penempatan selama lebih kurang tiga minggu, akhirnya ia meningkat menjadi satu Proklamasi dengan segala komitmen kemanusiaan dan keadaban, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap dunia luar. Maka pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 pagi, di gedung Pegangsaan Timur nomor lima puluh enam, berdirilah Bung Karno didampingi Bung Hatta menginformasikan dengan penuh kesyahduan ke seluruh jagad yang menyatakan:

"KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA, HAL-HAL YANG TENTANG PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN diselesaikan dengan cara seksama DAN DALAM TEMPO sesingkat-singkatnya".
                                                        Atas nama bangsa Indonesia
                                                        SUKARNO-HATTA

Dengan itu lahirlah satu Negara Republik Indonesia secara sah, dan. ....... Pada tanggal 28 September 1950 - setelah tidak ada satupun lagi yang mengkhawatirkan dan meragukan - diterimalah ia (Negara Kesatuan Republik Indonesia) menjadi anggota keluarga besar kerukunan seluruh bangsa (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
*
Revolusi Nasional Indonesia yang dimulai pada tahun 1945 dan berakhir lima tahun kemudian, pada hakekatnya tidak jauh berbeda dengan Revolusi Nasional Amerika yang dimulai pada tahun 1776 dan berakhir juga lima tahun kemudian (Adam Malik).


*