Sabtu, 09 Februari 2019

JENGHIS KHAN


Ngunandiko.166






JENGHIS KHAN
(Organisasi, tipu & muslihat pasukan militer Mongol; Bag ke-2)

Peralatan berat dibawa oleh pasukan Mongol dengan gerobak yang   ter-organisasi-kan dengan baik. Gerobak itu antara lain adalah untuk membawa stok pasokan panah dalam jumlah yang besar. Hal paling utama, dalam keadaan pasokan logistic yang terbatas dalam suatu perjalanan adalah  dipastikan-nya  dapat menemukan cukup pasokan makanan dan air untuk pasukan dan hewan yang bersamanya. Dalam semua ekspedisi militer, yang memakan waktu lama, para prajurit Mongol membawa serta keluarga mereka.


6.   Komunikasi (Communication).

Bangsa Mongol membangun sistem stasiun atau pos penggantian (relaying) kuda, mirip dengan sistem yang digunakan di Persia kuno untuk transfer secara cepat pesan-pesan tertulis. Sistem surat-menurat Mongol adalah seperti sistem pertama di kerajaan Kekaisaran Romawi. Selain itu, komunikasi di medan perang, pasukan Mongol memanfaatkan bendera dan terompet isyarat. Dan pada tingkat yang lebih  rendah, dilakukan dengan isyarat panah untuk mengkomunikasikan perintah pergerakan pasukan selama pertempuran.


7.   Kostum atau Seragam  (Costumes or Uniforms).

Kostum atau seragam dasar pasukan  Mongol untuk pertempuran terdiri dari mantel berat yang diikat di pinggang dengan sabuk kulit. Pada sabuk tersebut tersimpan pedang, belati, dan mungkin kapak. Sedang mantel (jubbah) dilipat pada bidang badan di kiri 2 kali lipatan dan diamankan oleh sejenis tombol atau kancing beberapa inci di bawah ketiak kanan. Mantel tersebut dilapisi dengan bulu. Di bawah mantel, pakaian dalam seperti sebuah kemeja lengan panjang dan baju longgar, umumnya terbuat dari sutra dan benang logam. Bangsa Mongol mengenakan kaus pelindung dari sutra berat. Jika panah menembus lapisan pelindung luar atau garmen kulit luar, panah itu tidak mungkin benar-benar menembus sutra, sehingga mencegah anak panah menyebabkan suatu kematian.

Sepatu bot yang terbuat dari kulit, meskipun berat akan tetapi terasa nyaman dan cukup longgar  untuk mengakomodasi celana yang terselip sebelum dikat erat dengan tali. Prajurit Mongol mengunakan sejenis sepatu rata (heelless), tidak tinggi, disol tebal dan dilapisi dengan bulu. dengan kaus kaki, sehingga membuat kaki tidak merasa dingin.

Baju besi pipih yang dikenakan di atas mantel tebal. Baju ini terdiri dari besi dengan skala kecil, serat berantai, atau kulit keras yang dijahit bersama dengan penjepit kulit dan bila ditimbang kurang lebih 10 kilogram (22 pon) jika terbuat dari kulit saja ; dan lebih berat lagi jika lapisan baja itu terbuat dari sisik logam. Kulit lapis yang pertama ini dilunakan dengan cara direbus dan kemudian dilapisi dengan pernis mentah, menjadikannya tahan air. Terkadang mantel berat para prajurit itu hanya diperkuat dengan pelat logam saja. Mantel ini tentunya tidak terus menerus dipakai, tetapi hanya selama  melakukan pertempuran saja.

Helm yang berbentuk kerucut dan terdiri dari pelat besi atau baja dengan ukuran yang berbeda dan termasuk besi berlapis penjaga leher. Penutup muka pasukan Mongol adalah berbentuk kerucut dan terbuat dari bahan berlapis (bisa diganti pada musim dingin), dan penutup telinga.  Helm tentara dibuat dari kulit atau logam tergantung pada pangkat, tetapi pasti semua sama kuatnya, karena nilai sebuah nyawa tidak tergantung pangkat dan kekayaan-nya.


8.   Senjata Perang (Weapons).

Senjata utama pasukan Mongol adalah busur Mongol. Busur itu terbuat dari bahan komposit (otot kayu dan tanduk) untuk dapat mencapai akurasi, kekuatan, dan pencapaian. Geometri busur memungkinkan untuk dibuat relatif kecil sehingga dapat digunakan  menembak ke segala arah dari kuda. Setiap kantong panah berisi enam puluh anak panah yang diikat di punggung pasukan kavaleri. Pasukan pemanah Mongol adalah sangat terampi, mereka mampu memanah burung yang sedang terbang tepat pada sayapnya.

Prajurit & Senjatanya
Kunci kekuatan busur Mongol adalah konstruksi laminasi, dengan lapisan tanduk rebus dan untuk menambah otot kayu. Lapisan tanduk berada di bagian muka karena tahan kompresi, sedangkan bagian lapisan muka otot berada di luar karena menolak ekspansi. Semua ini memberi kekuatan busur yang besar dan membuat sangat efektif, sekalipun terhadap baju besi. Busur Mongol bisa menembakan panah keatas sejauh 5 kilometer (0,31 mil). Target tembakan itu mungkin pada kisaran 200 atau 230 meter (660 atau 750 kaki), menentukan jarak dekat taktis yang optimal untuk unit pasukan kavaleri ringan. Tembakan balistik bisa memukul unit pasukan musuh (tanpa menargetkan sasaran secara individu) pada jarak hingga 400 meter (1.300 kaki), berguna untuk mengejutkan dan menakut-nakuti tentara dan kuda lawan sebelum memulai serangan yang sebenarnya.

Pemanah pasukan Mongol menggunakan berbagai macam panah, tergantung pada target dan jarak. Chainmail (armor made of small metal rings linked together) dan beberapa baju besi logam bisa ditembus dari jarak dekat dengan menggunakan panah khusus.

Senjata pasukan Mongol berikutnya adalah pedang. Pedang itu sedikit melengkung yang digunakan untuk serangan memotong, tetapi juga mampu memotong dan menusuk, karena bentuk dan konstruksinya, sehingga lebih mudah  digunakan dari kuda. Pedang itu dapat digunakan dengan pegangan satu tangan atau dua tangan, dan memiliki pisau yang  panjangnya sekitar 2 kaki (0,61 m), dengan panjang keseluruhan pedang sekitar 3 kaki (0,91 m) dan mungkin tidak pernah lebih dari 1 meter (3 kaki 3 inchi).

 
9.   Taktik perang “Pengepungan” ("Siege" War Tactics).

Teknologi adalah salah satu aspek penting dari  peperangan yang dilakukan oleh pasukan Mongol (Jenghis Khan). Misalnya mesin (perangkat) pengepungan adalah bagian penting dari perang Jenghis Khan, terutama dalam menyerang kota-kota yang berkubu atau mempunyai benteng pertahanan. Mesin (perangkat) pengepungan itu terurai (knock down) dan dibawa oleh kuda, lalu dibangun kembali di lokasi pertempuran, tidak seperti halnya dengan tentara Eropa. Rombongan pasukan Mongol itu akan melakukan perjalanan dengan insinyur-insinyur dan teknisi terampil yang akan membangun mesin (perangkat)  pengepungan dari bahan-bahan (components) di tempat pertempuran.

Para insinyur yang membangun mesin (perangkat) itu direkrut diantara para tawanan, sebagian besar dari China dan Persia. Ketika pasukan Mongol membantai seluruh populasi, insinyur-insinyur dan teknisi, secara cepat diasimilasikan ke dalam tubuh pasukan tentara Mongol untuk menghidari ikut terbunuh.

Taktik yang juga umum digunakan adalah apa yang disebut sebagai "kharash". Selama pengepungan, prajurit Mongol akan membaur dengan kerumunan penduduk setempat atau tentara yang menyerah dari pertempuran sebelumnya, dan  menyuruh penduduk setempat atau tentara yang menyerah itu maju dalam pengepungan dan pertempuran tersebut. Ini adalah sejenis penggunaan "papan hidup" atau "perisai manusia", mereka sering menjadi korban ujung panah lawan, sehingga para prajurit Mongol pada posisi lebih aman. Kharash itu juga sering dipaksa maju didepan untuk mendobrak dinding pertahanan.


 10.               Strategi Menjaga Sang Panglima Perang (Strategy to Protect the War Commander).

Taktik pasukan Mongol di medan perang adalah kombinasi dari  hasil latihan, komunikasi yang baik, dan disiplin dalam menghadapai kekacauan di suatu pertempuran. Pasukan Mongol dilatih untuk hampir semua kemungkinan yang akan terjadi. Jadi ketika hal itu (latihan, komunikasi, dan disiplin) terjadi, pasukan Mongol itu bisa bereaksi dengan menyesuaikan diri. Pasukan tentara Mongol juga dilindungi oleh para perwira mereka dengan baik. Pelatihan dan disiplin memungkinkan melawan musuh tanpa memerlukan pengawasan atau intruksi secara terus menerus dan berantai, yang sering menempatkan posisi komandannya dalam situasi berbahaya.

Bila mungkin, komandan pasukan Mongol harus menemukan dan menempati tempat (tanah) tertinggi yang tersedia, di mana sang komandan bisa membuat keputusan dan kesimpulan taktis didasarkan pada pandangan terbaik dari peristiwa yang terjadi di medan perang. Selanjutnya, keberadaan sang komandan di tempat yang tinggi memungkinkan pasukan   lebih mudah menerima perintah yang disampaikan dengan isyarat bendera daripada perintah itu disampaikan dilevel ketinggian yang sama. Selain dari pada itu, komandan di tempatkan ditanah tertinggi membuat lebih mudah untuk menjaga dan mempertahankannya.

Tidak seperti tentara Eropa pada masa itu, yang sangat menekankan pada keberanian pribadi. Mongol menganggap pemimpin adalah sebagai aset vital. Misalnya Subutai, yang tidak bisa naik kuda di bagian akhir dari karirnya (karena usia dan obesitas), maka Subutai (dalam keadaan seperti itu) pasti akan diejek oleh hampir semua tentara Eropa waktu itu. Namun  bangsa Mongol  pasti masih mengakui dan menghormai  kekuatan insting dan strategi militer Subutai, yang telah menjadi salah satu bawahan yang Jenghis khan yang paling mumpuni dan disegani. 


11.               Intelijen dan Perencanaan ( Spying and Planning).

Bangsa Mongol adalah bangsa yang sangat hati-hati, pasukan Mongol akan  memata-matai musuh-nya sebelum melakukan invasi apapun. Sebelum invasi ke Eropa, Batu dan Subutai mengirim mata-mata selama hampir sepuluh tahun ke jantung Eropa, membuat peta jalan Romawi kuno, menetapkan rute perdagangan, dan menentukan tingkat kemampuan masing-masing kerajaan dalam melawan invasi. Batu dan Subutai   memperkirakan keinginan setiap kerajaan untuk saling membantu atau tidak, dan memprediksi kemampuan-nya  secara sendiri-sendiri atau secara bersama-sama.
Ketika menyerang suatu daerah, bangsa Mongol melakukan semua yang diperlukan untuk benar-benar dapat menaklukkan kota-kota  tersebut. Beberapa taktik yang dilakukan-nya antara lain adalah sbb :

(1)      Mengalihkan jalur sungai-sungai yang mengarah ke kota-kota yang akan ditaklukan ;
(2)        Menutup pasokan pangan dan menunggu penduduknya menyerah ;
(3)      Mengumpulkan warga sipil dari daerah terdekat untuk mengisi lini depan serangan sebelum mendaki dinding atau tembok pertahanan kota;
(4)        Melakukan perampokan di daerah sekitarnya lalu membunuh beberapa orang penduduk untuk menakut-nakuti ;
(5)        Membiarkan beberapa orang selamat dan melarikan diri ke ibu kota   melaporkan kerugian-nya  ke rakyat umum untuk melemahkan perlawanan sekaligus menguras sumber daya  kota karena masuknya para pengungsi secara tiba-tiba.

Taktik seperti tersebut diatas telah berkali-kali dilakukan oleh  pasukan militer Mongol, dan pada umumnya sukses.


12.     Perang Psikologis dan Tipuan (Psychological Warfare and Deception).

Pasukan Mongol berhasil menggunakan perang psikologis dalam banyak pertempuran, terutama dalam hal menyebarkan teror dan ketakutan di kota-kota musuh. Pasukan Mongol seringkali memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerah dan membayar upeti, daripada kota-kotanya dijarah  dan dihancurkan. Pasukan Mongol juga tahu bahwa penduduk dengan populasi menetap tidak bebas untuk lari seperti pada populasi nomaden (mis : bangsa Mongol), dan bahwa penghancuran kota-kota adalah menjadi kehilangannya  yang terburuk. 

Ketika kota-kota tersebut menerima tawaran untuk menyerah (kotanya tidak akan dijarah dan dihancurkan), maka diperlukan pengorbanan lain yaitu  mendukung tentara Mongol menaklukkan daerah lainnya dengan memasok tenaga kerja, persediaan bahan makanan, dan layanan lainnya yang diminta oleh pasukan Mongol. Jika tawaran itu ditolak (tidak mau menyerah), pasukan Mongol akan menyerang dan menghancurkan kota-kota tersebut. 

Dalam keadaan seperti itu (menyerah atau menolak) memungkinkan warga sipil melarikan diri, dan beberapa diantaranya menjadi alat menebar teror dengan menceritakan kerugian dan kekejaman yang telah dialaminya. 

Cerita-cerita tersebut adalah alat penting untuk menimbulkan rasa takut pada orang lain. Namun, kedua belah pihak (penyerang Mongol maupun yang diserang) seringkali memiliki kepentingan yang sama, walaupun berbeda motivasinya dalam melebih-lebihkan dahsyatnya peristiwa tersebut. Bisa jadi reputasi pasukan Mongol itu akan meningkat, namun bisa  juga  meningkatkan semangat perlawanan terhadap pasukan Mongol.

Untuk menghadapi keadaan seperti itu, maka data spesifik (misalnya jumlah korban) yang berasal dari  sumber-sumber kontemporer perlu dinilai dengan hati-hati, lihat pula segi motivasi dari pemberitaan itu.

Dalam perang, pasukan Mongol juga menggunakan taktik tipu muslihat dengan sangat  baik. Misalnya, ketika mendekati tentara lawan yang bergerak, maka pasukan Mongol   dibagi menjadi tiga atau lebih , masing-masing kelompok  tentara berusaha untuk mengepung dan mengejutkan lawan. Hal ini menciptakan scenario adanya banyak medan perang  (battlefield),  lawan akan mengira bahwa pasukan Mongol  bisa muncul  dari mana saja, dan tampak lebih banyak dari pada kenyataan sebenarnya. Mengapit dan atau pura-pura mundur jika musuh tidak dapat diatasi  dengan mudah adalah salah satu teknik yang paling sering dipraktekkan oleh pasukan Mongol.

Teknik lain yang umum digunakan oleh pasukan Mongol adalah   perang psikologis, teknik itu digunakan untuk memancing musuh ke posisi rentan antara lain adalah sbb : 

(1). Dengan  menampakkan diri di sebuah bukit (tempat yang tinggi) atau di lokasi-lokasi yang telah ditentukan sebelumnya, kemudian menghilang dengan segera ke dalam hutan atau di belakang bukit. Sementara itu tentara Mongol  lainnya akan mengapit (menyerang dari samping kiri dan atau kanan)  dengan strategi muncul tiba-tiba seolah-olah muncul entah dari mana  (kiri, kanan atau belakang) musuh ;
(2). Di medan perang pada awal pertempuran yaitu saat pasukan Mongol masih berkemah di dekat lokasi musuh, maka di malam hari pasukan Mongol berpura-pura menunjukan keunggulan jumlah pasukannya dengan memerintahkan masing-masing unit pasukan untuk membuat kebakaran, sedikitnya ada lima tempat kebakaran. Nyala api kebakaran itu akan terlihat oleh para pengintai atau mata-mata musuh dan musuh akan mengira bahwa kekuatan pasukan Mongol adalah lima kali lebih besar dari jumlah sebenarnya ;
(3). Melakukan trik kamuflase dan teror, dengan cara mengikat cabang-cabang pohon atau daun di belakang kuda-nya dan membiarkan kuda-kuda itu menarik dedaunan dibelakangnya sehingga menyapu tanah; dengan melakukan perjalanan disertai dengan pergerakan yang sistematis dan serempak pasukan Mongol bisa menciptakan badai debu di balik bukit, hal ini dalam rangka menciptakan rasa takut dan juga kamuflase supaya tampak bagi lawan jumlah pasukan Mongol jauh lebih besar dari kondisi yang sebenarnya, sehingga memaksa lawannya untuk menyerah ;
(4). Seperti diketahui setiap orang tentara Mongol memiliki lebih dari satu kuda, maka para tahanan dan warga sipil untuk sementara waktu sebelum pertempuran berlangsung dibiarkan untuk naik kuda, tujuannya adalah kamuflase dari keunggulan jumlah pasukan itu.

Teknik seperti tersebut diatas seringkali sukses dilakukan, dan membawa kemenangan bagi pasukan Mongol.


13.               Rekrutmen Pasukan Lawan Yang Menyerah (Recruitment of surrendering troops).

Sebagaimana diketahui pasukan Mongol telah menaklukkan banyak  wilayah. Bersamaan dengan aksi menaklukkan wilayah-wilayah itu pasukan Mongol merekrut laki-laki dari wilayah-wilayah itu untuk dijadikan  bagian dari pasukan tentaranya. Hal itu dilakukan, jika wilayah-wilayah itu menyatakan menyerah dan takluk, namun jika tetap melawan akan dihancurkannya.

Misalnya bangsa Turki atau bangsa  seperti Armenia, Georgia dan lainnya yang tidak mau menyerah, maka harus siap menghadapi bayang-bayang kehancuran total, apalagi jika berani secara terang-terangan menantang perang, pasti digebuk habis oleh pasukan Mongol.

Pasukan multi nasional Mongo

Dengan cara rekrutmen seperti itu, maka jumlah pasukan Mongol  akan meningkat Hal seperti itu terjadi di dalam serangkaian invasi dan pertempuran di Baghdad, dimana tentara berbagai wilayah dan bangsa  bahu membahu menyerbu Bagdad. Pasukan Mongol menjadi pasukan multi nasional, karena terdiri dari tentara campuran berbagai wilayah dan bangsa yang berjuang di bawah kontrol dan kepemimpinan   bangsa Mongol.


14.               Taktik Pertempuran Darat (Battle Tactics)

Para Tumen biasanya akan maju di garis depan. Tiga baris pertama akan terdiri dari pasukan pemanah berkuda, dua baris terakhir terdiri dari pasukan akhli tombak. Setelah pasukan musuh berada dalam jarak jangkau senjata panah, pasukan Mongol akan mencoba untuk menghindari serangan frontal yang berisiko atau serangan secara sembrono (berbeda tajam dengan pasukan dari Eropa dan Timur Tengah). Sebaliknya pasukan Mongol akan menggunakan serangan pengalih perhatian untuk mengacaukan lokasi pertempuran utama, sementara pasukan utama Mongol berusaha  mengepung atau mengelilingi musuh. Sekenario pertama, para pemanah berkuda akan memberikan sebuah serangan cepat dengan panah api. Pasokan  panah terus ditambahkan yang dibawa oleh unta-unta yang mengikuti dari jarak dekat untuk memastikan sampai-nya pasokan amunisi itu (bersambung).

*
Strategy is about making choices, trade-offs; it’s about deliberately choosing to be different ( Michael Porter)

*

Kamis, 31 Januari 2019

JENGHIS KHAN


Ngunandiko.164






JENGHIS KHAN
(Organisasi, tipu & muslihat pasukan militer Mongol; Bag ke-1)


I.            KATA PENGANTAR.

Pada kesempatan ini Ngunandiko ingin membahas dan merenungkan secara singkat tentang “JENGHIS KHAN”. Bahasan dan renungan ini disusun berdasarkan berbagai sumber informasi dan catatan dari teman-teman. 

Seperti diketahui Jenghis Khan hidup pada bagian akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13 (1162 – 1227). Jenghis  adalah pendiri pertama keluarga besar Khan dan Jenghis Khan menjadi sangat berkuasa dengan menyatukan banyak suku nomaden di seantero Asia Timur Laut yaitu dataran tinggi Mongolia, semenanjung Korea, Manchuria dan wilayah-wilayah di sekitarnya.

Setelah memperoleh gelar sebagai Jenghis Khan, maka dibangunnya “Kekaisaran Mongol”. Dan beberapa waktu kemudian Jenghis Khan  memimpin pasukan militer Mongol melancarkan invasi, serta menaklukkan sebagian besar Eurasia. Eurasia adalah superbenua gabungan dari dua benua yaitu Eropa dan Asia.

Jenghis Khan

Bahasan dan renungan ini akan menitik beratkan pada system organisasi, tipu & muslihat pasukan militer Mongol  atau lazim pula disebut sebagai  taktik, strategi, organisasi pasukan militer Mongol. System itu dibentuk dan dirancang oleh “JENGHIS KHAN”  untuk menjaga Negara-nya dan terutama untuk menaklukkan musuh-musuhnya.

II.          PENJELASAN UMUM

Seperti telah diterangkan dimuka sistem organisai, tipu & muslihat pasukan militer Mongol  dirancang dan dibentuk  oleh Jenghis. Dengan   sistem organisai, tipu & muslihat pasukan militer Mongol  seperti itu, maka “Kekaisaran Mongol” menjadi sangat kuat dan  dapat menaklukkan  hampir seluruh benua Asia Timur Laut, Timur Tengah, dan bagian timur Eropa.

Pondasi dasar dari sistem organisasi, tipu & muslihat pasukan militer  Mongol  itu dikembangkan dan merupakan kelanjutan dari gaya hidup nomaden  bangsa Mongol, yang kemudian dibentuk menjadi suatu system pasukan militer yang khas. 

Disamping itu dengan dikusainya teknologi logam (besi) untuk membuat senjata dan perlengkapan perang serta adanya hewan kuda sebagai kendaraan dan tunggangan yang dapat bergerak dengan cepat, maka keduanya menjadi tiang utama dan memperkuat “sistem  pasukan militer Mongol” tersebut. Dengan system itu organisai, tipu & muslihat  diterapkan dalam operasi-operasi  militer di berbagai tempat oleh Jenghis Khan ; para jenderal  perangnya ; dan kemudian hal itu diteruskan oleh para penerus dinastinya dengan sukses. 

Teknologi dan budaya asing, yang dipandang berguna bagi organisasi,  tipu & muslihat pasukan militer Mongol itu, seperti sistem pertahanan dan serangan diadaptasi atau diadopsi, kemudian diintegrasikan ke dalam struktur komando pasukan militer Mongol.

Organisasi, tipu & muslihat pasukan militer Mongol ini  disebut  pula  sebagai system taktik, strategi, dan organisasi pasukan militer Mongol. Sistem itu terdiri dari 17 butir yaitu: (1) Organisasi dan karakteristik Pasukan; (2) Memutuskan hubungan mata rantai kelompok Kesukuan; (3) Pelatihan dan disiplin; (4) Kavaleri atau Pasukan Berkuda; (5) Logistik; (6) Komunikasi; (7) Kostum atau Seragam; (8) Senjata Perang; (9) Strategi menjaga sang Panglima Perang; (10) Intelijen dan Perencanaan; (11) Psywar (Perang Psikologis) dan Teknik Kamuflase (Tipuan); (12) Rekruitmen Pasukan Lawan yang menyerah; (13) Taktik Pertempuran Darat; (14) Teknik Menjepit dan Mengapit; (15) Pengepungan dan Pembukaan; (16) Pura-pura mundur dan kabur; (17) Semangat Juang.

III.       TAKTIK, STRATEGI, DAN ORGANISASI

Uraian dan penjelasan singkat mengenai system taktik, strategi dan organisasi pasukan militer Mongol, yang dibentuk dan dirancang oleh  Jengis Khan tersebut, lebih kurang seperti berikut ini.

1.   Organisasi dan karakteristik Pasukan (Organization and characteristics of Troops).

Jenghis Khan meng-organisasi-kan tentara Mongol ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan system decimal. Satu unit atau regu terdiri dari 14 – 60 orang, secara rekursif (“rekursi” yaitu proses pengulangan sesuatu dengan cara kesamaan-diri)  dibangun mulai dari kelompok terdiri dari 10 (Aray), 100 (Zuut), 1,000 (Minghan), dan 10,000 (Tumen). Masing-masing dengan system pelaporan, yang dilakukan oleh para pemimpin pasukan   dari tingkat rendah ke tingkat berikutnya yang  lebih tinggi.  Unit-unit     regu pasukan itu diawasi oleh seorang intendan (kepala divisi pasukan) Tumen, yang disebut  jurtchi. Total pasukan dapat dihitung  minimal sekitar 140 ribu sampai maximal sekitar 600 ribu orang atau rata-rata sekitar 440 ribu orang “pasukan kekaisaran Mongol”, yang tersebar di Wilayah Mongol sendiri dan wilayah-wilayah bawahannya yang sudah ditaklukkan.

Jenghis Khan menghargai mereka yang telah setia selama bertahun-tahun sampai  Jenghis Khan naik ke puncak kekuasaannya. Penghargaan  itu diberikan oleh Jengis Khan melalui suatu surat keputusan yang dibuat dari markas besarnya. 

Dapat dikemukakan bawa para Tumen dan Minghan diperintah oleh seorang Noyan, yang diberi tugas   mengelola wilayah yang sudah ditaklukkan secara administrative.

Sejumlah Tunmen, kira-kira 2 s/d 5 Tunmen membentuk sebuah Ordu yaitu sebuah korps gabungan tentara atau pasukan tempur, sedangkan istilah “Horde” atau unit tentara gabungan, itu dibentuk atas perintah para Khan atau para jenderal (Boyan). 

Pasukan Mongol

Sebuah Ordu adalah unit tentara gabungan yang diatur secara ketat,  dengan system organisasi dan bentuk tampilan formasi pasukan yang seragam.
Transfer atau perpindahan antar unit regu pasukan dilarang. Para pemimpin pada tingkat masing-masing memiliki wewenang penuh melakukan eksekusi perintah mereka sendiri, yang danggapnya terbaik.  Struktur  komando pasukan dengan system itu terbukti sangat fleksible. Dan struktur komando seperti itu memungkinkan tentara Mongol menyerang secara massal, dengan membagi pasukan menjadi kelompok-kelompok lebih kecil untuk memimpin pengepungan dalam penyergapan pasukan lawan atau membagi menjadi kelompok-kelompok kecil terdiri dari 10 (atau lebih) tentara, ketika melarikan diri atau terpecah belah saat pertempuran berlangsung.

Setiap tentara secara individu bertanggung jawab atas peralatan dan  senjata yang mereka miliki (senjata inventaris pasukan). Sekurang-kurangnya masing-masing tentara memiliki lima jenis senjata. Meskipun mereka berperang sebagai bagian dari unit pasukan, tetapi keluarga dan hewan tunggangan dari para personil pasukan akan menemaninya di setiap ekspedisi keluar wilayah.
Di semua unit pasukan yang ada, terdapat pasukan elit yang disebut sebagai  “Keshig”. Pasukan elit itu berfungsi sebagai penjaga “Kekaisaran Mongol”,  serta sebagai tempat pelatihan bagi para perwira muda yang potensial. Misalnya  Subutai  Agung (penasihat militer para pewaris Jenghis Khan) memulai karirnya di tempat itu.

2.   Memutus mata rantai kelompok-kelompok Kesukuan (Cut of the relationship between the Ethnic group chain).

Sebelum era Jenghis Khan, banyak suku dan konfederasi (confederacy) di daratan Mongol, termasuk diantaranya suku-suku bangsa Naiman, Merkit, Tatar,  Mongol, dan Keraits. Suku-suku itu pada awalnya sering saling menyerang satu  sama lain, bahkan dalam saling menyerang itu sering dilakukan dengan keroyokan (bergabung). Permusuhan seperti itu –  saling balas dendam – telah berlangsung berabad-abad lamanya.  Selain itu, banyak  kelompok keluarga dan individu yang telah dikucilkan dari suku-nya, karena berbagai alasan dan tinggal di luar perlindungan suku. Kelompok-kelompok yang terakhir inilah yang disambut oleh Jenghis Khan  untuk bergabung dengan pasukannya.

Ketika terjadi penggabungan tentara baru ke dalam tentara inti, Jenghis Khan membagi tentara di bawah pemimpin yang berbeda-beda untuk memecah hubungan sosial dan kesukuan, sehingga tidak ada pembagian berdasarkan garis keturunan dari aliansi suku-suku. Dengan demikian, Jenghis Khan membantu mempersatukan masyarakat yang berbeda-beda, dan terbentuklah loyalitas baru dari setiap pasukan. Namun demikian, identitas kesukuan lama tidak sepenuhnya  hilang, masih ada pada beberapa suku yang merupakan orang Jenghis Khan. Suku-suku itu tetap setia kepada Jenghis Khan sepanjang masa dan secara teguh tetap mempertahankan integritas dan identitasnya. Sedangkan suku-suku seperti Tatar, Mergids, Keraits, Naiman dan klan-klan  bekas musuhnya, yang awalnya lebih kuat dari Jenghis Khan, benar-benar telah terputus kesatuan-nya. Misalnya   Tunmen Ongut tidak pernah lagi merupakan bagian dari Tumen Tatar, padahal klan Ongut semula adalah bagian dari suku bangsa Tartar.

Promosi jabatan  diutamakan berdasar prestasi. Setiap pimpinan  unit pasukan bertanggung jawab atas kesiapan prajuritnya. Jika ditemukan dan dinilai ada ketidakcakapan dalam memimpin akan diganti.

Promosi jabatan juga diberikan oleh Jenghis Khan berdasar kemampuan, bukan berdasar atas identitas asal muasal kelahirannya. Pengecualian adalah bagi  para pemimpin tingkat komando tertinggi pada hirarki pasukan. Jabatan itu  diperuntukkan  bagi keluarga Jenghis Khan. Subutai, putra seorang pandai besi (profesi yang sangat terhormat  pada masa itu), tetapi  tidak ditakdirkan menjadi calon pemimpin.

Dalam serangkaian invasi penaklukan Eropa Barat dan Eropa Timur, secara normal  komando dipegang oleh Batu Khan (cucu Jenghis Khan) dan dua pangeran lainnya yang sedarah dengan Batu Khan  masing-masing mengepalai sayap pasukan itu. Tapi ketiga pangeran keturunan Jenghis Khan tersebut  berada di bawah pengendalian Subutai. Setelah menerima berita kematian Ogedei Khan (putra dan penerus Jenghis Khan) pada tahun 1243, maka Subutai mengingatkan kepada ketiga pangeran itu tanggung jawabnya, namun ketiganya ternyata ogah-ogahan menjalankan tugas dinasti-nya. Dan Subutai memerintahkan para Tumen untuk kembali ke Mongol, kejadian ini menyelamatlah Eropa dari kehancuran lebih lanjut.

Setiap tentara Mongol biasanya memiliki dan memelihara 3 atau 4  ekor kuda. Personil pasukan sering melakukan pergantian kuda yang tunggangan-nya, yaitu pada saat perjalanan dengan kecepatan tinggi dan selama berhari-hari tanpa  berhenti. Kemampuan tentara Mongol bertahan hidup dari alam sekitarnya dalam situasi yang ekstrim adalah mengandalkan hewan peliharaanya (terutama dari susu kuda-nya), hal itu membuat tentara Mongol jauh lebih sedikit  ketergantungan-nya kepada petugas pemasok logistik kebutuhan pangan tradisional (bekal yang dibawanya). Dalam beberapa kasus, seperti selama invasi di Hungaria pada awal 1241, tentara Mongol melakukan perjalanan hingga 100 mil (160 km) per hari (24 jam), pada masa itu tidak ada pasukan manapun yang mampu melakukannya.

Kemampuan bergerak prajurit Mongol secara individu memungkinkan    misi-nya berhasil mengumpulkan informasi intelijen tentang rute dan menemukani daerah untuk medan perang yang sesuai dengan taktik tempur yang disukai oleh pasukan Mongol.

Selama invasi ke Kiev dan Rusia, bangsa Mongol dapat menggunakan  sungai beku sebagai jalur lintasnya. Musim yang sangat dingin,  bagi pasukan Mongol menjadi waktu yang digunakan untuk menyerang.

Untuk menghindari hujan panah atau senjata yang mematikan dari tentara Mongol, lawan mengantisifasinya dengan menyebar atau  mencari perlindungan. Dengan memecah formasi seperti itu membuatnya  lebih rentan terhadap incaran pasukan Mongpl, yang ahli mengunakan tombak. Demikian  juga kalau lawan bergabung dalam satu induk pasukan besar, maka akan menjadi lebih rentan terhadap serangan pasukan pemanah Mongol.

Setelah musuh dianggap cukup lemah dan terpencar, para Noyan (panglima pasukan Mongol)  memberi isyarat. Maka drum akan ditabuh dan diikuti dengan isyarat bendera, itu adalah tanda bagi para pasukan yang ahli mengunakan tombak untuk memulai tugasnya. Seringkali dengan serbuan hujan panah sudah cukup untuk mengusir dan menghancurkan lawannya, sehingga pasukan   tombak hanya diperlukan untuk membantu mengejar dan menyergap sisa-sisa pasukan lawan yang lari pontang-panting, menyelamatkan diri.

Ketika menghadapi tentara Eropa, yang lebih menekankan bentuk formasi kavaleri berat, maka tentara Mongol menghindari  konfrontasi  langsung. Sebaliknya tentara Mongol menggunakan senjata panah untuk menghancurkan  kavaleri  musuh dari jarak jauh.  Jika baju besi bertahan dari serangan panah , maka bangsa Mongol lalu menyerang kuda-kuda para ksatria musuh, sehingga hanya meninggalkan pria berlapis baja yang berjalan kaki dan terisolasi. Alhasil kesatria-kesatria Eropa itu menjadi bulan-bulanan dan santapan lezat dari para pembantai yaitu pasukan Mongol.

Pada pertempuran Mohi, tentara Mongol membuka celah  barisannya, hal itu  menarik orang-orang Hongaria untuk mundur melalui celah tersebut, Dan mengakibatkan  pedesaan Hongaria yang telah hancur sebelumnya menjadi tempat pelarian bagi musuh Mongol. Dan inilah saatnya  para pemanah pasukan Mongol yang bersembunyi dibalik gunung memacu kudanya secara serentak menghabisi para musuh Mongol dengan tombak  seenak hatinya. Pada pertempuran Legnica, para kesatria berkuda Teutonik, Templar, dan Hospitaller banyak yang terbunuh akibat diserang oleh pasukan Mongol, hanya sedikit yang mampu turun dari kudanya serta tidak bisa berjalan apalagi berlari dengan cepat, dan terbunuh akibat diserang oleh pasukan Mongol,. Hal itu jelas akibat pakaian perang yang digunakan oleh para tentara Eropa, musuh Mongol itu.

3.   Pelatihan dan Disiplin (Training and Discipline).

Unit regu pasukan tentara Mongol terus menerus  latihan  berkuda, memanah, atau latihan taktik formasi dan rotasi tempur. Latihan ini dikelola dengan disiplin keras, tapi bukan  kasar atau tidak masuk akal. Latihan yang manusiawi,  latihan yang membuat tentara Mongol lebih displin dan tangguh..
Pejabat teras seperti biasanya diberi kelonggaran yang luas oleh atasannya dalam melaksanakan perintah, selama tujuan yang lebih besar  dilakukani dengan baik, dan perintah   dipatuhi. Akibatnya tentara Mongol terhindar  dari disiplin yang terlalu kaku, micro management yang menjadi momok bagi angkatan bersenjata sepanjang sejarah. Namun, semua anggota pasukan harus setia  satu sama lain tanpa syarat dan terlebih kepada atasan, dan lebih jauh lagi terhadap Khan, Kaisar Mongol. Jika satu orang tentara melarikan diri dari situasi bahaya dalam suatu pertempuran, maka  sembilan rekan lainnya dari arva (kelompok terkecil dari pasukan seperti disebutkan sebelumnya) akan menghadapi hukuman mati bersama-sama.

Salah satu metoda latihan yang unik orang Mongol adalah dengan cara melakukan berburu bersama dalam sekala besar, hal itu diselenggarakan setiap tahun di stepa (area daratan luas yang terdiri dari semak belukar). Para penunggang kuda Mongol akan membuat lingkaran besar, dan mengusir segala macam binatang yang ada didalamnya, kemudian digiring menuju pusat perburuan. Hal ini untuk melatih manuver bergerak bersama secara dinamis yang sangat diperlukan  di medan perang, bangsa Mongol akan menjebak semua binatang dari berbagai jenis dalam pengepungan, dan atas perintah komandan pembantaian dimulai. Jika pemburu dapat membunuh setiap makhluk sebelum waktu yang ditentukan akan diberi hadiah, atau jika ada satu binatang dapat melarikan diri dari cincin lingkaran perburuan akan dihukum (reward and punishment). Dengan demikian bangsa Mongol mampu melatih, menikmati rekreasi berburu, dan sekaligus mengumpulkan makanan untuk pesta besar-besaran.

4.   Kavaleri atau Pasukan Tempur Berkuda (Cavalry or Equestrian Combat Forces).

Enam dari setiap sepuluh tentara Mongol merupakan pasukan kavaleri ringan dan pemanah berkuda, empat sisanya termasuk kavaleri berat berbaju lapis baja dan ahli bersenjatakan tombak. Boleh dikatakan tentara Mongol adalah pasukan kavaleri ringan bahkan sangat ringan dibandingkan dengan standar kavaleri pasukan ksatria Eropa. Sebagian besar pasukan yang tersisa 2/5-nya adalah kavaleri berat dengan bersenjatakan tombak untuk pertempuran jarak dekat setelah pasukan pemanah  membawa musuh ke dalam situasi kacau. Pasukan pemanah ini juga biasanya secara otomatis bisa melakuan pertempuran jarak dekat dengan senjata pedang, kapak atau senjata tempur jarak dekat  lainya.

Pasukan tentara Mongol melindungi kuda perang mereka dengan cara yang sama seperti yang dilakukan atas diri mereka sendiri, menutupi mereka dengan baju besi pipih. Baju besi kuda dibagi menjadi lima bagian dan dirancang untuk melindungi setiap bagian dari badan kuda (termasuk dahi). Baju besi kuda memiliki plat khusus yang dibuat dengan cara diikat di setiap sisi leher.
Kuda perang pasukan Mongol relatif kecil, dan akan kalah berlalri pada jarak pendek jika adu  balapan dalam kondisi yang sama dengan kuda yang lebih besar dari daerah lain, khususnya di Eropa. Namun demikian, karena tentara lawan perlengakapan perangnya jauh lebih berat, maka kuda pasukan Mongol masih bisa berlari lebih cepat dari pasukan berkuda musuh dalam situasi pertempuran. Selain itu, kuda perang pasukan Mongolia sangat tahan dikendarai lama dan kokoh, yang memungkinkan pasukan Mongol untuk bergerak jarak jauh secara cepat. Kadang-kadang lawan sering dikejutkan oleh suatu serangan tiba-tiba, padahal menurut perhitungan masih  beberapa hari lagi atau beberapa minggu kedatangan pasukan Mongol itu. Hal ini memberi efek kejut yang luar biasa, itulah salah satu keunggulan dari tentara Mongol.

Semua kuda dilengkapi dengan sanggurdi (tempat menyimpan anak panah). Ini keuntungan teknis yang membuat para pemanah Mongol mudah menggerakkan  tubuh bagian atas mereka, dan menembak ke segala arah, termasuk ke belakang. Prajurit Mongol akan mengatur waktu bagi  setiap  panah yang dilepaskan. Dan di ketinggian kurang lebih  2 s/d 3 meter dari tanah, parajurit Mongol bisa mempredikisi jarak dengan lawan dari bunyi derap kuda yang ditimbulkan, sehingga mampu memastikan dengan baik sasaran tembak.

Setiap prajurit memiliki 2 s/d 4 ekor kuda, sehingga ketika kuda itu  lelah, bisa digunakan kuda yang lain. Itulah yang membuat tentara Mongol merupakan salah satu tentara tercepat  di dunia. Namun, hal itu adalah  juga yang membuat tentara Mongol rentan terhadap kekurangan pakan ternak; terutama jika ekspedisi penyerangan dilakukan di daerah kering atau hutan, dengan demikian membawa kesulitan tersendiri dan bahkan di daerah padang rumput yang ideal pun, pasukan Mongol harus terus bergerak untuk memastikan cukup persediaan rumput sebagai pakan untuk kuda-kudanya yang begitu besar jumlahnya, 2-4 kali lipat dari jumlah pasukan Mongol itu sendiri.

5.   Logistik (Logistics).

Tentara Mongol dalam  melakukan  perjalanan (long march) tampak sangat ringan, dan mampu bertahan hidup dari alam sekitarnya. Peralatan   untuk membantu memenuhi kebutuhan-nya antara lain adalah   kail ikan dan alat berburu lainnya, semuanya itu dimaksudkan agar setiap prajurit terlepas dari sumber pasokan tetap (bekal). Bahan makanan dalam perjalanan yang paling umum adalah daging kering yang disebut "Borts",  masih umum dalam masakan bangsa Mongol sampai saat ini. Borts ringan dan mudah dibawa dalam perjalanan dan dapat dimasak dengan air, sama dengan "makanan instan, cepat saji" jaman modern sekarang.

Pasukan Mongol selalu   memastikan, bahwa kondisi kudanya segar bugar. Para prajurit Mongol masing-masing biasanya   memiliki  2 s/d 4 ekor kuda. Sebagian besar kuda perang bangsa Mongol adalah kuda tunggangan, dan bila perlu para prajurit itu bisa hidup dari   susu kudanya. Dalam  kondisi sulit, prajurit Mongol bisa minum sedikit dari darah kuda, dengan menyobek nadinya. Para prajurit Mongol bisa bertahan hidup selama sebulan, hanya dengan minum susu kuda yang dikombinasikan dengan darah kuda.

Peralatan berat dibawa oleh pasukan Mongol dengan gerobak yang ter-organisasi-kan  dengan baik. Gerobak itu antara lain adalah untuk membawa stok pasokan panah dalam jumlah yang besar. Hal paling utama, dalam keadaan jumlah pasokan logistic yang terbatas dalam suatu perjalanan, adalah   di-pastikan-nya  dapat menemukan cukup pasokan makanan dan air untuk pasukan dan hewan yang bersamanya. Dalam semua ekspedisi militer, yang memakan waktu lama, para prajurit Mongol membawa serta keluarga mereka (bersambung).
*
Saya adalah utusan Tuhan untuk memberi hukuman . . . . . Jika Anda tidak melakukan dosa besar, Tuhan tidak akan mengirim saya untuk memberi hukuman kepada Anda.
(Jenghis Khan)
*


[i]

Minggu, 16 Desember 2018

Ramon Magsaysay


Ngunandiko 161




Mutiara
(Ramon Magsaysay)

Mutiara ini berisikan beberapa “quotation” dari Ramon Magsaysay (1907 – 1957, seorang politikus Filipino yang terkemuka, serta presiden ke tujuh Philipina. Ramon Magsaysay meninggal dalam suatu kecelakaan pesawat terbang di Cebu, Philipina pada tahun 1957.

Berikut ini adalah beberapa quotation dari Magsaysay, yang diambil dari beberapa sumber secara acak. Untuk kita ingat dan kita renungkan kembali.

University of the Philippines


(1)        Negara ini (Philipina) adalah seperti piramida, terdiri dari jutaan batu . . . . . Dan batu fondasi dari piramida itu adalah manusia biasa (Ramon Magsaysay).

(2)        Guns alone are not the answer. We must provide hope for young people for better clothing, housing, and food ; and if we do, the radicals will wither away (Ramon Magsaysay).

(3)        Our military offensive is indispensable, since force must be met by force. But our social offensive is the extra weapon which the enemy cannot produce. Here the enemy meets democracy’s strongest element—the ability to realize and satisfy the needs of its people without taking from them their freedom and dignity as human being (Ramon Magsaysay).

(4)        If you look at a farmer and his daily expenditure on existing energy services, it is much higher on an incremental delta basis. And then there is an emotional cost of not providing their kids with the right to educate. If you calculate these costs in economic terms and create a financing mechanism for them to buy it, the emotional delta cost is much higher compared to their household (Ramon Magsaysay).

(5)        The mistake the world is making with the simple peoples to try and hurry them into political concepts they don’t understand and aren’t prepared to cope with. I know. I am a peasant my self . . . . . I say. Spit on the big. fancy schemes. I want all the little things first. Then perhaps we can get on to the bigger things (Ramon Magsaysay).

(6)        The difference between both is that social entrepreneurship has a much more financial transparency. There is no financial viability and that is where a corporate sector make a difference because we maintain a balance between both the financial  status and the social service (Ramon Magsaysay).

(7)        Saya percaya bahwa mereka yang berkekurangan hidupnya, harus lebih banyak memperoleh perlindungan hukum (Ramon Magsaysay).

Ramon Magsaysay

Itulah sejumlah quotation dari Ramon Magsaysay ; perlu disampaikan disini bahwa Ramon Magsaysay adalah sarjana hokum alumni “University of the Philippines). Dan sewaktu  masih menjabat sebagai presiden ke tujuh, Philipina sedang menghadapi pemberontakan Hukbalahap (Hukbalahap Rebellion).
Disamping itu nama Ramon Magsaysay telah diabadikan dalam bentuk “Magsaysay Award”; suatu penghargaan yang setiap tahun diberikan kepada mereka yang dipandang memiliki integritas dalam : pemerintahan; melayani rakyat dan masyarakat demokratis.

Demikianlah dan semoga bermanfaat !

*
The only way to deal with an unfree world is to become so absolutely free that your very existence is an act of rebellion ( Albert Camus )

Read more at: https://www.brainyquote.com/topics/rebellion
*

Sabtu, 15 Desember 2018


Ngunandiko.161




Mutiara
(Ramon Magsaysay)


Mutiara ini berisikan beberapa "quotation" dari Ramon Magsaysay (1907 – 1957), seorang politikus Filipino yang terkemuka, serta presiden ketujuh Philipina  Ramon Magsaysay meninggal dalam suatu kecelakaan pesawat terbang, pada tahun 1957, di Cebu, Philipina. Berikut ini adalah beberapa "quotation" dari Ramon Magsaysay, yang diambil secara acak dari berbagai sumber, untuk kita kenang dan kita pelajari.

1.   Negara ini [Filipina] adalah seperti piramida, terdiri dari jutaan batu ... Dan batu fondasi dari piramida ini adalah manusia biasa (Ramon Magsaysay).

Ramon Magsaysay



2.   Guns alone are not the answer. We must provide hope for young people for better housing, clothing, and food; and if we do, the radicals will wither away (Ramon Magsaysay).

3.   Our military offensive is indispensable, since force must be met by force. But our social offensive is the extra weapon which the enemy cannot produce. Here the enemy meets democracy's strongest element-the ability to realize and satisfy the needs of its people without taking from them their freedom and dignity as human beings (Ramon Magsaysay).

4.   If you look at a farmer and his daily expenditure on existing energy services, it is much higher on an incremental delta basis. And then there is an emotional cost of not providing their kids with the right to educate. If you calculate these costs in economic terms and create a financing mechanism for them to buy it, the emotional delta cost is much higher compared to their household (Ramon Magsaysay)


5.   The mistake the world is making with the simple peoples is to try and hurry them into political concepts they don't understand and aren't prepared to cope with. I know. I am a peasant myself. ... I say, Spit on the big, fancy schemes. I want all the little things first. Then perhaps we can get on to the bigger things (Ramon Magsaysay).

6.   The difference between both is that social entrepreneurship has a much more financial transparency. There is no financial viability and that is where a corporate sector makes a difference because we maintain a balance between both the financial status and the social service (Ramon Magsaysay).

7.   Saya percaya bahwa mereka yang berkekurangan hidupnya, harus lebih banyak memperoleh perlindungan hukum (Ramon Magsaysay).

Itulah sejumlah quotation Ramon Magsaysay ; perlu pula  disampaikan disini  bahwa Ramon Magsaysay adalah  sarjana hukum alumni “University of the Philippines”. Dan sewaktu Ramon Magsaysay menjabat sebagai presiden, Philipina sedang menghadapi pemberontakan Hukbalahap (Hukbalahap Rebellion).
Disamping itu nama Ramon Magsaysay juga telah diabadikan dalam bentuk “Ramon Magsaysay Award”, yaitu suatu penghargaan tahunan yang diberikan bagi mereka yang dipandang memiliki integritas dalam pemerintahan, melayanani rakyat dan masyarakat demokratis.
Demikianlah dan semoga bermanfaat !

*
*